Budidaya terong ungu sebetulnya cukup menjanjikan secara ekonomis. Karena permintaan pasar terus meningkat dari waktu ke waktu. Sayangnya selama ini petani masih sering menjadikannya sebagai kegiatan sampingan saja.
Karena kegiatan sampingan, jarang ada petani yang serius menggarapnya. Sehingga produktivitasnya pun hanya sekedarnya saja. Belum sampai pada tataran produktivitas tinggi, sebagaimana komoditas pertanian lainnya.
Budidaya terong ungu sebetulnya tidaklah terlalu sulit. Terlebih untuk wilayah yang berada di dataran tinggi. Karena terong ungu dapat tumbuh dengan baik pada suhu udara 22 - 30 derajat celsius.
Terong ungu dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Tetapi yang paling baik pada tanah lempung berpasir dengan derajat keasaman (Ph) 6,8 sampai 7,7 , kaya bahan organik, memiliki aerasi dan drainase yang baik.
Dalam pertumbuhannya, terong ungu juga membutuhkan pencahayaan yang cukup. Karena itu, sangat pas untuk dibudidayakan pada saat musim kemarau, sebagai tanaman sela. (ibutani)
Jumat, 27 Mei 2011
Kamis, 19 Mei 2011
Cara Pengendalian Ulat Bulu
Peningkatan populasi ulat bulu bermula di Probolinggo, menyebabkan daun tanaman mangga gundul, dan ulat-ulatnya masuk ke pemukiman sehingga mengganggu penduduk. Ulat yang mendominasi di Probolinggo adalah dari keluarga Lymantriidae, dengan dua spesies yang dominan yaitu Arctornis submarginata dan Lymantria marginata.
A. submarginata merupakan spesies khas dan spesifik Probolinggo yang hingga saat ini belum ditemukan di wilayah lain. Ulat bulu banyak sekali jenis, pada keluarga Lymantriidae saja terdapat ribuan jenis.
Selain keluarga Lymantriidae, seperti Cricula trifenestrata dari keluarga Saturniidae banyak terdapat pada pohon alpukat, jambu mente, kedondong, dan Maenas maculifascia dari keluarga Arctiidae banyak terdapat pada tanaman kenanga/ylang-ylang.
Menurut laporan dari 33 provinsi selain di Probolinggo, populasi ulat bulu masih rendah dan hanya ditemukan di beberapa pohon saja. Jenis ulat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Hal ini merupakan kejadian dinamika populasi hama.
Berdasarkan uraian di atas, masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan populasi sehubungan dengan dampak dari perubahan iklim (Climate change) dan pemanasan global (Global warming) terhadap pola hidup dan tingkah laku serangga, khususnya ulat bulu.
Kondisi Lapangan
Berdasarkan pengamatan dari lapangan, serangan ulat bulu ditemukan di beberapa lokasi di Indonesia terutama di Jawa Timur (Probolinggo,Banyuwangi, Pasuruan), Jawa Barat (Bekasi), DKI Jakarta (Tanjung Duren), Jawa Tengah (Pati, Magelang) dan DI Yogyakarta. Serangan ulat bulu di berbagai daerah ada yang sama, ada yang berbeda spesiesnya menurut lokasi dan jenis tanaman yang diserang.
Awal serangan ulat bulu yang terjadi di Probolinggo, dimulai awal Maret dan puncak serangan terjadi pada 6 April 2011 pada pohon mangga di 9 kecamatan secara sporadis pada malam hari dan objek serangan yang agregat (spot). Ulat menyerang daun pohon mangga dan menyebabkan daun mengering, rontok dan pohon menjadi gundul, tetapi setelah 2 minggu tanaman pulih kembali dengan keluarnya kuncup daun dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Semua variates mangga yang ada di lapangan dapat terserang hama ini. Jumlah pohon mangga di Kabupaten Probolinggo 1.227.879 pohon, yang terserang 14.813 pohon (1,2%).
Berdasarkan pengamatan peneliti Badan Litbang Pertanian, secara umum ulat bulu yang sedang meledak di beberapa daerah di Indonesia ditengarai berasal dari satu famili Lymantriidae walaupun spesies dapat berbeda. Terdapat tiga spesies yang ditemukan yaitu (1) Lymantria sp, (2) Arctornis submarginata, (3) Dasychira inclusa namun yang dominan ada dua spesies yaitu Lymantria sp dan Arctornis submarginata.
Penyebab
Pada kondisi normal, keberadaan ulat bulu selalu ada dan terjadi fluktuasi pola serangan setiap tahun dengan populasi rendah. Namun ledakan ulat bulu yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini, ditengarai oleh gangguan ekosistem antara lain yang disebabkan oleh perubahan iklim, berkurangnya musuh alami seperti predator, parasitoid dan biotik lainnya.
Sepuluh Langkah Pengendalian Ulat Bulu
Pemantauan dan identifikasi jenis hama, stadia hama, bagian dan jenis tanaman yang diserang, tingkat/intensitas serangan, serta kondisi lingkungan untuk disampaikan kepada petugas terkait.
Lakukan pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan ulat, antara lain dengan cara dibakar atau dibenamkan dalam tanah.
Pemasangan lampu perangkap (light trap) untuk membunuh ngengat, karena ngengat aktif di malam hari dan tertarik cahaya.
Mengumpulkan pupa/kepompong dan memasukannya kedalam botol plastik yang diberi lubang-lubang, sehingga ngengat yang terbentuk tidak dapat keluar sedangkan parasit yang muncul dapat keluar dan kembali berperan di alam.
Pelihara dan lestarikan musuh alami seperti predator semut rangrang dan burung dengan cara melarang penangkapan burung dan melarang pengambilan telur semut di pohon, atau melestarikan dan memperbanyak koloni semut dengan cara memasang sarang buatan dari daun kering dan bambu.
Gunakan insektisida hayati berupa jamur, virus, bakteri, nematode, antara lain dengan cara (a). Mengumpulkan ulat yang mati terkena virus (menggelantung) dan mengaduknya dengan air, lalu menyemprotkan kembali ke ulat, (b). Mengumpulkan kepompong atau ulat yang terkena jamur (berwarna putih – jamur Beauveria dan hijau – jamur Metarhizium), lalu perbanyak di media jagung dan semprotkan ke ulat, (c). menggunakan insektisida hayati yang sudah diproduksi dan tersedia di Dinas/lembaga yang berwenang.
Pemasangan pembatas (burrier) pada batang pohon mangga berupa lem atau kain beracun, khususnya bagi ulat Arctornis yang memiliki sifat ketika malam hari naik ke bagian atas (kanopi) untuk memakan daun dan pada siang hari turun ke batang untuk bersembunyi dari serangan predator.
Jika kondisi populasi ulat sangat mengkhawatirkan dapat digunakan insektisida alami yang relatif ramah lingkungan, berupa insektisida nabati (berasal dari tumbuhan), seperti mimba, tembakau, akar tuba, piretrum, gadung, suren dan lainnya. Perlu diketahui bahwa insektisida nabati tidak menyebabkan kematian langsung seperti insektisida sintetis.
Pada kondisi kritis, maka jalan terakhir dapat digunakan insektisida kimia sintetis yang berdaya racun rendah berlabel hijau. Jangan menggunakan insektisida kimia sintetis untuk tindakan pencegahan, karena akan mengganggu keberadaan musuh alami dan mencemari lingkungan. (Ibu Tani)
(sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/ulat-bulu)
A. submarginata merupakan spesies khas dan spesifik Probolinggo yang hingga saat ini belum ditemukan di wilayah lain. Ulat bulu banyak sekali jenis, pada keluarga Lymantriidae saja terdapat ribuan jenis.
Selain keluarga Lymantriidae, seperti Cricula trifenestrata dari keluarga Saturniidae banyak terdapat pada pohon alpukat, jambu mente, kedondong, dan Maenas maculifascia dari keluarga Arctiidae banyak terdapat pada tanaman kenanga/ylang-ylang.
Menurut laporan dari 33 provinsi selain di Probolinggo, populasi ulat bulu masih rendah dan hanya ditemukan di beberapa pohon saja. Jenis ulat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Hal ini merupakan kejadian dinamika populasi hama.
Berdasarkan uraian di atas, masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan populasi sehubungan dengan dampak dari perubahan iklim (Climate change) dan pemanasan global (Global warming) terhadap pola hidup dan tingkah laku serangga, khususnya ulat bulu.
Kondisi Lapangan
Berdasarkan pengamatan dari lapangan, serangan ulat bulu ditemukan di beberapa lokasi di Indonesia terutama di Jawa Timur (Probolinggo,Banyuwangi, Pasuruan), Jawa Barat (Bekasi), DKI Jakarta (Tanjung Duren), Jawa Tengah (Pati, Magelang) dan DI Yogyakarta. Serangan ulat bulu di berbagai daerah ada yang sama, ada yang berbeda spesiesnya menurut lokasi dan jenis tanaman yang diserang.
Awal serangan ulat bulu yang terjadi di Probolinggo, dimulai awal Maret dan puncak serangan terjadi pada 6 April 2011 pada pohon mangga di 9 kecamatan secara sporadis pada malam hari dan objek serangan yang agregat (spot). Ulat menyerang daun pohon mangga dan menyebabkan daun mengering, rontok dan pohon menjadi gundul, tetapi setelah 2 minggu tanaman pulih kembali dengan keluarnya kuncup daun dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Semua variates mangga yang ada di lapangan dapat terserang hama ini. Jumlah pohon mangga di Kabupaten Probolinggo 1.227.879 pohon, yang terserang 14.813 pohon (1,2%).
Berdasarkan pengamatan peneliti Badan Litbang Pertanian, secara umum ulat bulu yang sedang meledak di beberapa daerah di Indonesia ditengarai berasal dari satu famili Lymantriidae walaupun spesies dapat berbeda. Terdapat tiga spesies yang ditemukan yaitu (1) Lymantria sp, (2) Arctornis submarginata, (3) Dasychira inclusa namun yang dominan ada dua spesies yaitu Lymantria sp dan Arctornis submarginata.
Penyebab
Pada kondisi normal, keberadaan ulat bulu selalu ada dan terjadi fluktuasi pola serangan setiap tahun dengan populasi rendah. Namun ledakan ulat bulu yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini, ditengarai oleh gangguan ekosistem antara lain yang disebabkan oleh perubahan iklim, berkurangnya musuh alami seperti predator, parasitoid dan biotik lainnya.
Sepuluh Langkah Pengendalian Ulat Bulu
Pemantauan dan identifikasi jenis hama, stadia hama, bagian dan jenis tanaman yang diserang, tingkat/intensitas serangan, serta kondisi lingkungan untuk disampaikan kepada petugas terkait.
Lakukan pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan ulat, antara lain dengan cara dibakar atau dibenamkan dalam tanah.
Pemasangan lampu perangkap (light trap) untuk membunuh ngengat, karena ngengat aktif di malam hari dan tertarik cahaya.
Mengumpulkan pupa/kepompong dan memasukannya kedalam botol plastik yang diberi lubang-lubang, sehingga ngengat yang terbentuk tidak dapat keluar sedangkan parasit yang muncul dapat keluar dan kembali berperan di alam.
Pelihara dan lestarikan musuh alami seperti predator semut rangrang dan burung dengan cara melarang penangkapan burung dan melarang pengambilan telur semut di pohon, atau melestarikan dan memperbanyak koloni semut dengan cara memasang sarang buatan dari daun kering dan bambu.
Gunakan insektisida hayati berupa jamur, virus, bakteri, nematode, antara lain dengan cara (a). Mengumpulkan ulat yang mati terkena virus (menggelantung) dan mengaduknya dengan air, lalu menyemprotkan kembali ke ulat, (b). Mengumpulkan kepompong atau ulat yang terkena jamur (berwarna putih – jamur Beauveria dan hijau – jamur Metarhizium), lalu perbanyak di media jagung dan semprotkan ke ulat, (c). menggunakan insektisida hayati yang sudah diproduksi dan tersedia di Dinas/lembaga yang berwenang.
Pemasangan pembatas (burrier) pada batang pohon mangga berupa lem atau kain beracun, khususnya bagi ulat Arctornis yang memiliki sifat ketika malam hari naik ke bagian atas (kanopi) untuk memakan daun dan pada siang hari turun ke batang untuk bersembunyi dari serangan predator.
Jika kondisi populasi ulat sangat mengkhawatirkan dapat digunakan insektisida alami yang relatif ramah lingkungan, berupa insektisida nabati (berasal dari tumbuhan), seperti mimba, tembakau, akar tuba, piretrum, gadung, suren dan lainnya. Perlu diketahui bahwa insektisida nabati tidak menyebabkan kematian langsung seperti insektisida sintetis.
Pada kondisi kritis, maka jalan terakhir dapat digunakan insektisida kimia sintetis yang berdaya racun rendah berlabel hijau. Jangan menggunakan insektisida kimia sintetis untuk tindakan pencegahan, karena akan mengganggu keberadaan musuh alami dan mencemari lingkungan. (Ibu Tani)
(sumber: http://www.litbang.deptan.go.id/ulat-bulu)
Selasa, 17 Mei 2011
Lomba Karya Tulis & Karya Inovasi Pertanian Remaja Tingkat Nasional 2011
Dalam rangka menumbuhkan kesadaran dan kepedulian generasi penerus pada core competence atau kekayaan utama bangsa Indonesia sebagai negara agraris serta menarik minat mereka pada sains dan teknologi bidang pertanian, dengan mengambil tema “Kembangkan Pertanian DaerahMu, Ciptakan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan untuk Mendukung Kemandirian Pangan” tahun 2011 Badan Litbang Pertanian, Kementrian Pertanian, akan melaksanakan Lomba Karya Tulis Pertanian dan Lomba Karya Inovasi Teknologi Pertanian.
Lomba ini merupakan ajang kompetisi ilmiah bagi pelajar SMA dan sederajat yang memiliki ketertarikan di dunia penelitian, khususnya bidang pertanian, untuk menampung aspirasi mereka dalam menyikapi kondisi lingkungannya terutama pertanian, menganalisa potensi dan permasalahan pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan di daerah/wilayah dimana mereka tinggal untuk mencari solusi yang tepat melalui inovasi pertanian yang ramah lingkungan bagi kemandirian pangan dan peningkatan nilai tambah serta daya saing hasil-hasil pertanian daerah.
Prasyarat & Ketentuan Lomba:
Peserta adalah pelajar tingkat SLTA/SPMA/SMK/STM/Sekolah Tata Boga/Sederajat (Perorangan atau Kelompok maksimal 3 orang)
Naskah dikirim sebanyak 3 (tiga) eksemplar
Lomba dilaksanakan di masing-masing Provinsi
Seleksi Tahap I (Seleksi Materi) dan Tahap II (Presentasi) di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) tiap Provinsi
Seleksi Tahap III, Presentasi Tingkat Nasional
Kategori Lomba:
Lomba terbagi dalam dua kategori:
Karya Tulis (semi populer) merupakan hasil penelitian, pengamatan lapang dan studi literatur,
Karya Inovasi Teknologi Pertanian
Hadiah:
Pemenang I : 10 juta, Pemenang II : 7,5 juta, dan Pemenang III : 5 juta, dan masing-masing akan mendapatkan piala. Setiap finalis akan menerima piagam penghargaan
Setiap satu pendamping finalis akan mendapatkan sertifikat dari panitia
Rangkuman Kegiatan:
Penyerahan formulir beserta kelengkapan lain karya ilmiah atau karya inovasi: 17 Mei - 13 Juni 2011
Proses pembuatan karya tulis atau karya inovasi : Mei–Juli 2011
Penyerahan karya tulis atau karya inovasi lengkap (paling lambat): 1- 15 Agustus 2011
Pengumuman semi finalis tingkat propinsi : 2 September 2011
Pengumuman 10 finalis (untuk 2 kategori lomba): 7 Oktober 2011
Registrasi finalis lomba karya tulis dan karya inovasi: 25 Oktober 2011
Presentasi finalis karya tulis dan : 26 Oktober 2011
Audiensi dan field trip : 27 Oktober 2011
Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah oleh Menteri
Pertanian: 28 Oktober 2011.
Informasi lebih lanjut silahkan Klik Disini
Lomba ini merupakan ajang kompetisi ilmiah bagi pelajar SMA dan sederajat yang memiliki ketertarikan di dunia penelitian, khususnya bidang pertanian, untuk menampung aspirasi mereka dalam menyikapi kondisi lingkungannya terutama pertanian, menganalisa potensi dan permasalahan pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan di daerah/wilayah dimana mereka tinggal untuk mencari solusi yang tepat melalui inovasi pertanian yang ramah lingkungan bagi kemandirian pangan dan peningkatan nilai tambah serta daya saing hasil-hasil pertanian daerah.
Prasyarat & Ketentuan Lomba:
Peserta adalah pelajar tingkat SLTA/SPMA/SMK/STM/Sekolah Tata Boga/Sederajat (Perorangan atau Kelompok maksimal 3 orang)
Naskah dikirim sebanyak 3 (tiga) eksemplar
Lomba dilaksanakan di masing-masing Provinsi
Seleksi Tahap I (Seleksi Materi) dan Tahap II (Presentasi) di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) tiap Provinsi
Seleksi Tahap III, Presentasi Tingkat Nasional
Kategori Lomba:
Lomba terbagi dalam dua kategori:
Karya Tulis (semi populer) merupakan hasil penelitian, pengamatan lapang dan studi literatur,
Karya Inovasi Teknologi Pertanian
Hadiah:
Pemenang I : 10 juta, Pemenang II : 7,5 juta, dan Pemenang III : 5 juta, dan masing-masing akan mendapatkan piala. Setiap finalis akan menerima piagam penghargaan
Setiap satu pendamping finalis akan mendapatkan sertifikat dari panitia
Rangkuman Kegiatan:
Penyerahan formulir beserta kelengkapan lain karya ilmiah atau karya inovasi: 17 Mei - 13 Juni 2011
Proses pembuatan karya tulis atau karya inovasi : Mei–Juli 2011
Penyerahan karya tulis atau karya inovasi lengkap (paling lambat): 1- 15 Agustus 2011
Pengumuman semi finalis tingkat propinsi : 2 September 2011
Pengumuman 10 finalis (untuk 2 kategori lomba): 7 Oktober 2011
Registrasi finalis lomba karya tulis dan karya inovasi: 25 Oktober 2011
Presentasi finalis karya tulis dan : 26 Oktober 2011
Audiensi dan field trip : 27 Oktober 2011
Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah oleh Menteri
Pertanian: 28 Oktober 2011.
Informasi lebih lanjut silahkan Klik Disini
Budidaya Bayam Cabut
Bayam (Amaranthus spp.) merupakan sayuran yang banyak mengandung vitamin dan mineral, dapat tumbuh sepanjang tahun pada ketinggian sampai dengan 1000 m dpl dengan pengairan secukupnya.
Terdapat 3 jenis sayuran bayam, yaitu:
1. Bayam cabut, batangnya berwarna merah juga ada berwarna hijau keputih-putihan.
2. Bayam petik, pertumbuhannya lebih tegak serta berdaun lebar, warna daun hijau tua dan ada yang berwarna kemerah-merahan.
3. Bayam yang biasa dicabut dan juga dapat dipetik. Jenis bayam ini tumbuh tegak, berdaun besar berwarna hijau keabu-abuan.
Teknologi Budidaya
1. Benih
Bayam dikembangkan melalui biji. Biji bayam yang dijadikan benih harus cukup tua (+ 3 bulan). Benih yang muda , daya simpannya tidak lama dan tingkat perkecambahannya rendah. Benih bayam yang tua dapat disimpan selama satu tahun. Benih bayam tidak memiliki masa dormansi dan kebutuhan benih adalah sebanyak 5-10 kg tiap hektar atau 0,5 รข€“ 1 g/m2. Varietas yang dianjurkan adalah Giti Hijau, Giti Merah, Kakap Hijau, Bangkok dan Cimangkok.
2. Persiapan Lahan
Lahan dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur. Selanjutnya buat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan 30 cm.
3. Pemupukan
Setelah bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam berikan pupuk dasar (pupuk kandang kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter tambahkan Urea 150 kg/ha (15 g/m2) diaduk dengan air dan disiramkan kepada tanaman pada sore hari 10 hari setelah penaburan benih, jika perlu berikan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 2 minggu setelah penaburan benih.
4. Penanaman/Penaburan Benih
Dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
Ditebar langsung di atas bedengan, yaitu biji dicampur dengan pupuk kandang yang telah dihancurkan dan ditebar secara merata di atas bedengan.
Ditebar pada larikan/barisan dengan jarak 10-15 cm, kemudian ditutup dengan lapisan tanah.
Disemai setelah tumbuh (sekitar 10 hari) bibit dibumbun dan dipelihara selama + 3 minggu. Selanjutnya dipindahkan ke bedengan dengan jarak tanam 50 x 30 cm. Biasanya untuk bayam petik.
5. Pemeliharaan
Bayam yang jarang terserang penyakit (yang ditularkan melalui tanah), adalah bayam cabut. Bayam dapat berproduksi dengan baik asalkan kesuburan tanahnya selalu dipertahankan, misalnya dengan pemupukan organik yang teratur dan kecukupan air, untuk tanaman muda (sampai satu minggu setelah tanam) membutuhkan air 4 l/m2/hari dan menjelang dewasa tanaman ini membutuhkan air sekitar 8 l/m2/hari.
6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Jenis hama yang sering menyerang tanaman bayam diantaranya ulat daun, kutu daun, penggorok daun dan belalang. Penyakit yang sering dijumpai adalah rebah kecambah (Rhizoctonia solani) dan penyakit karat putih (Albugo sp.). Untuk pengendalian OPT gunakan pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
7. Panen
Bayam cabut biasanya dipanen apabila tinggi tanaman kira-kira 20 cm, yaitu pada umur 3 sampai dengan 4 minggu setelah tanam. Tanaman ini dapat dicabut dengan akarnya ataupun dipotong pangkalnya. Sedangkan bayam petik biasanya mulai dapat dipanen pada umur 1 sampai dengan 1,5 bulan dengan interval pemetikan seminggu sekali.
8. Pasca Panen
Tempatkan bayam baru panen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin untuk menjaga kesegarannya.
(sumber: http://jambi.litbang.deptan.go.id)
Terdapat 3 jenis sayuran bayam, yaitu:
1. Bayam cabut, batangnya berwarna merah juga ada berwarna hijau keputih-putihan.
2. Bayam petik, pertumbuhannya lebih tegak serta berdaun lebar, warna daun hijau tua dan ada yang berwarna kemerah-merahan.
3. Bayam yang biasa dicabut dan juga dapat dipetik. Jenis bayam ini tumbuh tegak, berdaun besar berwarna hijau keabu-abuan.
Teknologi Budidaya
1. Benih
Bayam dikembangkan melalui biji. Biji bayam yang dijadikan benih harus cukup tua (+ 3 bulan). Benih yang muda , daya simpannya tidak lama dan tingkat perkecambahannya rendah. Benih bayam yang tua dapat disimpan selama satu tahun. Benih bayam tidak memiliki masa dormansi dan kebutuhan benih adalah sebanyak 5-10 kg tiap hektar atau 0,5 รข€“ 1 g/m2. Varietas yang dianjurkan adalah Giti Hijau, Giti Merah, Kakap Hijau, Bangkok dan Cimangkok.
2. Persiapan Lahan
Lahan dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur. Selanjutnya buat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan 30 cm.
3. Pemupukan
Setelah bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam berikan pupuk dasar (pupuk kandang kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter tambahkan Urea 150 kg/ha (15 g/m2) diaduk dengan air dan disiramkan kepada tanaman pada sore hari 10 hari setelah penaburan benih, jika perlu berikan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 2 minggu setelah penaburan benih.
4. Penanaman/Penaburan Benih
Dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
Ditebar langsung di atas bedengan, yaitu biji dicampur dengan pupuk kandang yang telah dihancurkan dan ditebar secara merata di atas bedengan.
Ditebar pada larikan/barisan dengan jarak 10-15 cm, kemudian ditutup dengan lapisan tanah.
Disemai setelah tumbuh (sekitar 10 hari) bibit dibumbun dan dipelihara selama + 3 minggu. Selanjutnya dipindahkan ke bedengan dengan jarak tanam 50 x 30 cm. Biasanya untuk bayam petik.
5. Pemeliharaan
Bayam yang jarang terserang penyakit (yang ditularkan melalui tanah), adalah bayam cabut. Bayam dapat berproduksi dengan baik asalkan kesuburan tanahnya selalu dipertahankan, misalnya dengan pemupukan organik yang teratur dan kecukupan air, untuk tanaman muda (sampai satu minggu setelah tanam) membutuhkan air 4 l/m2/hari dan menjelang dewasa tanaman ini membutuhkan air sekitar 8 l/m2/hari.
6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Jenis hama yang sering menyerang tanaman bayam diantaranya ulat daun, kutu daun, penggorok daun dan belalang. Penyakit yang sering dijumpai adalah rebah kecambah (Rhizoctonia solani) dan penyakit karat putih (Albugo sp.). Untuk pengendalian OPT gunakan pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
7. Panen
Bayam cabut biasanya dipanen apabila tinggi tanaman kira-kira 20 cm, yaitu pada umur 3 sampai dengan 4 minggu setelah tanam. Tanaman ini dapat dicabut dengan akarnya ataupun dipotong pangkalnya. Sedangkan bayam petik biasanya mulai dapat dipanen pada umur 1 sampai dengan 1,5 bulan dengan interval pemetikan seminggu sekali.
8. Pasca Panen
Tempatkan bayam baru panen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin untuk menjaga kesegarannya.
(sumber: http://jambi.litbang.deptan.go.id)
Sabtu, 14 Mei 2011
Budidaya Kangkung Darat Semi Organik
Kangkung (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun, termasuk kedalam famili Convolvulaceae.
Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan 2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.
Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat dilihat, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium. Pertanian organik dapat memberi perlindungan terhadap lingkungan dan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, memperbaiki kualitas hasil pertanian, menjaga pasokan produk pertanian sehingga harganya relatif stabil, serta memiliki orientasi dan memenuhi kebutuhan hidup ke arah permintaan pasar.
Teknologi Budidaya
1. Benih
Kangkung darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra atau varietas lokal yang telah beradaptasi.
2. Persiapan Lahan
Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah itu dibuat bedengan membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya adalah 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit.
3. Pemupukan
Bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam diberikan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter ditambahkan pupuk anorganik 150 kg/ha Urea (15 gr/m2) pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 dan 2 minggu setelah tanam.
4. Penanaman
Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang tanamkan 2 - 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau system garitan (baris).
5. Pemeliharaan
Yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujan harus dilakukan
penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit.
6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) dan Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
7. Panen
Panen dilakukan setelah berumur + 30 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas permukaan tanah.
8. Pasca Panen
Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin.
(sumber: http://jambi.litbang.deptan.go.id)
Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan 2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.
Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat dilihat, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium. Pertanian organik dapat memberi perlindungan terhadap lingkungan dan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, memperbaiki kualitas hasil pertanian, menjaga pasokan produk pertanian sehingga harganya relatif stabil, serta memiliki orientasi dan memenuhi kebutuhan hidup ke arah permintaan pasar.
Teknologi Budidaya
1. Benih
Kangkung darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra atau varietas lokal yang telah beradaptasi.
2. Persiapan Lahan
Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah itu dibuat bedengan membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya adalah 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit.
3. Pemupukan
Bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam diberikan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter ditambahkan pupuk anorganik 150 kg/ha Urea (15 gr/m2) pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 dan 2 minggu setelah tanam.
4. Penanaman
Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang tanamkan 2 - 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau system garitan (baris).
5. Pemeliharaan
Yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujan harus dilakukan
penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit.
6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) dan Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
7. Panen
Panen dilakukan setelah berumur + 30 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas permukaan tanah.
8. Pasca Panen
Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin.
(sumber: http://jambi.litbang.deptan.go.id)
Minggu, 08 Mei 2011
Budidaya Buah Naga
Pembudidayaan buah naga untuk usaha produksi dilakukan dikebun. Untuk menghasilkan produksi yang maksimal tentu saja harus dengan persiapan yang matang, perawatan yang baik dan penanggulangan gangguan penyakit yang tepat. Berikut ini kegiatan pembudidayaan diulas secara lengkap :
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah adalah faktor penting yang harus diperhatikan agar tanaman buah naga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Perakaran buah naga memerlukan tanah yang gembur karena perakarannya merayap dipermukaan tanah, apabila tanah terlalu keras atau liat, akar tidak bisa tumbuh baik pada tanah.
Sebelum digemburkan sebaiknya tanah dibersihkan dari gulma dan rerumputan untuk menghindari penyakit. Setelah itu tanah digemburkan dengan mencangkul sedalam satu cangkulan dengan dibolak-balik. Setelah itu dibuat lubang-lubang tanam sesuai dengan cara tanamnya apakah menggunakan system panjatan tunggal atau sistem kelompok
Pada sistem panjatan tunggal pengolahan tanah hanya dilakukan disekitar lubang tanam saja, berbeda dengan sistem kelompok pengolahan tanah dilakukan pada seluruh alur barisan tempat penanaman.
Media tanam untuk panjatan tunggal menggunakan campuran tanah galian diberi pasir sekitar 5 kg, bubuk bata merah 5 kg, pupuk kandang kering 10 kg dan dolomit 300 g kemudian dicampur sampai merata.
Pada model sistem tanam berkelompok untuk setiap alur sepanjang 4 m media tanamnya yaitu pasir 8 kg, pupuk kandang 20 kg dan bisa ditambahkan bubuk bata merah sebanyak 10 kg apabila tanah terlalu porous. Jika tidak menggunakan bubuk bata merah , jumlah pupuk kandang ditambahkan 10 kg lagi jadi total 30 kg. Ditambah dolomit yang mengandung magnesium sebanyak 600g. Bahan-bahan tersebut dicampur merata pada tanah galian.
Setelah penyiapan media tanam selesai kemudian disiram dan biarkan terkena matahari sampai kering. Pengeringan ini bertujuan agar tanah terbebas dari racun dan penguapan lain.
Sistem Pengairan
Untuk sistem pengairan pada lahan disesuaikan dengan kondisi lahan, system cara tanamnya, dan pengadaan sumber air yang ada disekitar lahan. Bisa menggunakan cara pengairan tradisional yaitu system leb yaitu menggunakan parit sedalam 20 cm yang dibuat disekitar barisan tanaman. Atau juga bisa menggunakan system pengairan pipa yang dibuat sedemikian rupa untuk mengalirkan air pada seluruh tanaman.
Penanaman Pada Lahan
Penanaman bibit lahan tanam yang harus diperhatikan adalah kedalaman yang terlalu dalam malah akan menghambat pertumbuhannya. Kedalaman penanaman adalah 20% dari panjang bibit. Misal bibit yang mau ditanam berukuran panjang 50-80 cm maka kedalamannya sekitar 10-15 cm. Sebelum ditanam sebaiknya bibit setek diolesi Ridomil sebanyak 40 g yang dicampur dengan 1 liter air untuk mencegah kebusukan pada pangkal batang setek. (Sumber: http://www.buahnaga.us)
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah adalah faktor penting yang harus diperhatikan agar tanaman buah naga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Perakaran buah naga memerlukan tanah yang gembur karena perakarannya merayap dipermukaan tanah, apabila tanah terlalu keras atau liat, akar tidak bisa tumbuh baik pada tanah.
Sebelum digemburkan sebaiknya tanah dibersihkan dari gulma dan rerumputan untuk menghindari penyakit. Setelah itu tanah digemburkan dengan mencangkul sedalam satu cangkulan dengan dibolak-balik. Setelah itu dibuat lubang-lubang tanam sesuai dengan cara tanamnya apakah menggunakan system panjatan tunggal atau sistem kelompok
Pada sistem panjatan tunggal pengolahan tanah hanya dilakukan disekitar lubang tanam saja, berbeda dengan sistem kelompok pengolahan tanah dilakukan pada seluruh alur barisan tempat penanaman.
Media tanam untuk panjatan tunggal menggunakan campuran tanah galian diberi pasir sekitar 5 kg, bubuk bata merah 5 kg, pupuk kandang kering 10 kg dan dolomit 300 g kemudian dicampur sampai merata.
Pada model sistem tanam berkelompok untuk setiap alur sepanjang 4 m media tanamnya yaitu pasir 8 kg, pupuk kandang 20 kg dan bisa ditambahkan bubuk bata merah sebanyak 10 kg apabila tanah terlalu porous. Jika tidak menggunakan bubuk bata merah , jumlah pupuk kandang ditambahkan 10 kg lagi jadi total 30 kg. Ditambah dolomit yang mengandung magnesium sebanyak 600g. Bahan-bahan tersebut dicampur merata pada tanah galian.
Setelah penyiapan media tanam selesai kemudian disiram dan biarkan terkena matahari sampai kering. Pengeringan ini bertujuan agar tanah terbebas dari racun dan penguapan lain.
Sistem Pengairan
Untuk sistem pengairan pada lahan disesuaikan dengan kondisi lahan, system cara tanamnya, dan pengadaan sumber air yang ada disekitar lahan. Bisa menggunakan cara pengairan tradisional yaitu system leb yaitu menggunakan parit sedalam 20 cm yang dibuat disekitar barisan tanaman. Atau juga bisa menggunakan system pengairan pipa yang dibuat sedemikian rupa untuk mengalirkan air pada seluruh tanaman.
Penanaman Pada Lahan
Penanaman bibit lahan tanam yang harus diperhatikan adalah kedalaman yang terlalu dalam malah akan menghambat pertumbuhannya. Kedalaman penanaman adalah 20% dari panjang bibit. Misal bibit yang mau ditanam berukuran panjang 50-80 cm maka kedalamannya sekitar 10-15 cm. Sebelum ditanam sebaiknya bibit setek diolesi Ridomil sebanyak 40 g yang dicampur dengan 1 liter air untuk mencegah kebusukan pada pangkal batang setek. (Sumber: http://www.buahnaga.us)
Jumat, 06 Mei 2011
Padi Organik Tahan Gempa
RACHMAT Tobadiyana ingat betul kejadian gempa besar di Bantul, yogyakarta, empat tahun silam.
“PADI Pandan Wangi yang ditanam di lahan 25 ha itu baru berumur dua minggu,“ ujar kepala Dusun Serut, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, itu. Akibat gempa, tanaman padi di desanya terbengkalai selama sebulan. Saat Rachmat dan warganya kembali, tanaman padi organik itu tak sedikit pun terganggu. Malah 90 hari kemudian dipanen 180 ton padi organik.
Selama ditinggalkan, sawah-sawah itu tidak disiangi seperti yang biasa dilakukan saat padi menginjak umur 3-6 minggu. “kami tidak mungkin melakukannya karena masih tinggal di tenda pengungsian,’ ujar Rachmat yang menyebutkan hanya 17 dari sekitar 400 rumah di dusun itu utuh sendiri. Karena gempa, sistem irigasi juga lumpuh sehingga areal sawah kekeringan.
Ajakan Bupati Bantul Idham Samawi untuk kembali ke sawah agar sistem perekonomian lokal berjalan lagi, mendorong warga kembali mendatangi sawah yang tampak kekeringan dan penuh gulma. “tanaman tetap tumbuh bagus bahkan panen per hektar rata-rata 7,2 ton, “ kata Rachmat. Jumlah itu melebihi panen padi sebelumnya yang non organik, yakni berkisar 7 ton per hektar.
Pupuk kandang
Menurut Agung Gunawan, ketua II Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) D.I. Yogyakarta, hasil panen padi organik di Dusun Serut itu bagus lantaran pada awal tanam petani menggunakan pupuk kandang fermentasi. “dengan pupuk kandang yang di fermentasi selama empat minggu tidak terjadi endapan unsur fosfat yang menyebabkan tanah keras. Jadi, air dan unsur hara masih bias diserap tanaman, “ ujarnya.
Lahan pertanian di Indonesia mayoritas telah jenuh dengan berbagai unsur kimia yang terakumulasi puluhan tahun. Tanah menjadi keras sehingga sulit mengikat air dan unsur hara. Itu adalah ciri tanah jenuh pupuk. “ dari studi pada 2003 dan 2004 dijumpai kandungan bahan organik tanah sawah di Bantul kurang dari tiga persen sebagai dampak akumulasi pupuk dan pestisida kimia, “ kata Agung.
Pupuk kandang fermentasi membuat tanah mampu menangkap air. Selain itu, ia juga memasok bahan-bahan organik ke dalam tanah, yang mendorong organisme pendegradasi bahan organik seperti cacing tetap hidup dan berkembang biak.
Sertifikasi
Sejak 2007 silam, lahan padi organik di Dusun Serut telah mengantongi sertifikasi organik dari Indonesia Organic Farming Inspection and Certification (Inofice). Pola pertanian organik ini kemudian menjadi contoh bagi petani lain di wilayah Bantul dan daerah lain, seperti Sleman, Klaten, magelang, dan Kendal. Pada 2009, sebanyak tiga persen dari total 58000 hektar sawah di Yogyakarta menerapkan sistem organik.
Bantul yang terluas. Dari 16000 hektar lahan padi, lima persen diantaranya tersertifikasi organik. “ rencananya pada 2010 luas lahan organik ditingkatkan menjadi 10 persen”, ujar Agung yang juga direktur PT. MAS Organik, pemasar benih dan hasil padi organik.
Menurut Agung, pengertian organik bukan sekedar pada pupuk, melainkan juga menyangkut pada sarana dan prasarana seperti benih dan air. Benih padi ditanam merupakan varietas lokal, bukan hibrida.
Di Yogyakarta, varietas lokal Pandan Wangi, Menthik Wangi, dan Menthik Susu paling banyak ditanam. Jumlah penanam Rojolele dan beras hitam sedikit karena umur panen relatif lama, mencapai enam bulan.
Untuk menjaga mutu air sehingga tidak tercemar pestisida kimia atau zat pencemar lain, warga melakukan gotong royong dengan cara saling mengawasi. Karenanya sistem pertanian organik di Dusun Serut melibatkan seluruh anggota kelompok tani. Harap mafhum dengan luas kepemilikan lahan rata-rata hanya 0,03 ha/ orang, akan sulit mengontrol pengairan bila mereka bekerja sendiri-sendiri.
Seandainya gempa kembali mengguncang Bantul, padi organik dapat menjadi penyelamat perekonomian warga. Sumber Berita
“PADI Pandan Wangi yang ditanam di lahan 25 ha itu baru berumur dua minggu,“ ujar kepala Dusun Serut, Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, itu. Akibat gempa, tanaman padi di desanya terbengkalai selama sebulan. Saat Rachmat dan warganya kembali, tanaman padi organik itu tak sedikit pun terganggu. Malah 90 hari kemudian dipanen 180 ton padi organik.
Selama ditinggalkan, sawah-sawah itu tidak disiangi seperti yang biasa dilakukan saat padi menginjak umur 3-6 minggu. “kami tidak mungkin melakukannya karena masih tinggal di tenda pengungsian,’ ujar Rachmat yang menyebutkan hanya 17 dari sekitar 400 rumah di dusun itu utuh sendiri. Karena gempa, sistem irigasi juga lumpuh sehingga areal sawah kekeringan.
Ajakan Bupati Bantul Idham Samawi untuk kembali ke sawah agar sistem perekonomian lokal berjalan lagi, mendorong warga kembali mendatangi sawah yang tampak kekeringan dan penuh gulma. “tanaman tetap tumbuh bagus bahkan panen per hektar rata-rata 7,2 ton, “ kata Rachmat. Jumlah itu melebihi panen padi sebelumnya yang non organik, yakni berkisar 7 ton per hektar.
Pupuk kandang
Menurut Agung Gunawan, ketua II Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) D.I. Yogyakarta, hasil panen padi organik di Dusun Serut itu bagus lantaran pada awal tanam petani menggunakan pupuk kandang fermentasi. “dengan pupuk kandang yang di fermentasi selama empat minggu tidak terjadi endapan unsur fosfat yang menyebabkan tanah keras. Jadi, air dan unsur hara masih bias diserap tanaman, “ ujarnya.
Lahan pertanian di Indonesia mayoritas telah jenuh dengan berbagai unsur kimia yang terakumulasi puluhan tahun. Tanah menjadi keras sehingga sulit mengikat air dan unsur hara. Itu adalah ciri tanah jenuh pupuk. “ dari studi pada 2003 dan 2004 dijumpai kandungan bahan organik tanah sawah di Bantul kurang dari tiga persen sebagai dampak akumulasi pupuk dan pestisida kimia, “ kata Agung.
Pupuk kandang fermentasi membuat tanah mampu menangkap air. Selain itu, ia juga memasok bahan-bahan organik ke dalam tanah, yang mendorong organisme pendegradasi bahan organik seperti cacing tetap hidup dan berkembang biak.
Sertifikasi
Sejak 2007 silam, lahan padi organik di Dusun Serut telah mengantongi sertifikasi organik dari Indonesia Organic Farming Inspection and Certification (Inofice). Pola pertanian organik ini kemudian menjadi contoh bagi petani lain di wilayah Bantul dan daerah lain, seperti Sleman, Klaten, magelang, dan Kendal. Pada 2009, sebanyak tiga persen dari total 58000 hektar sawah di Yogyakarta menerapkan sistem organik.
Bantul yang terluas. Dari 16000 hektar lahan padi, lima persen diantaranya tersertifikasi organik. “ rencananya pada 2010 luas lahan organik ditingkatkan menjadi 10 persen”, ujar Agung yang juga direktur PT. MAS Organik, pemasar benih dan hasil padi organik.
Menurut Agung, pengertian organik bukan sekedar pada pupuk, melainkan juga menyangkut pada sarana dan prasarana seperti benih dan air. Benih padi ditanam merupakan varietas lokal, bukan hibrida.
Di Yogyakarta, varietas lokal Pandan Wangi, Menthik Wangi, dan Menthik Susu paling banyak ditanam. Jumlah penanam Rojolele dan beras hitam sedikit karena umur panen relatif lama, mencapai enam bulan.
Untuk menjaga mutu air sehingga tidak tercemar pestisida kimia atau zat pencemar lain, warga melakukan gotong royong dengan cara saling mengawasi. Karenanya sistem pertanian organik di Dusun Serut melibatkan seluruh anggota kelompok tani. Harap mafhum dengan luas kepemilikan lahan rata-rata hanya 0,03 ha/ orang, akan sulit mengontrol pengairan bila mereka bekerja sendiri-sendiri.
Seandainya gempa kembali mengguncang Bantul, padi organik dapat menjadi penyelamat perekonomian warga. Sumber Berita
Rabu, 04 Mei 2011
Bahaya Kompaksi Tanah untuk Pertanian
Bahaya Kompaksi Tanah untuk Pertanian
Kompaksi Tanah adalah bentuk degradasi fisik tanah sebagai kaibat dari pemadatan tanah sehingga aktivitas biologi, porositas dan permeabilitas tanah menurun, kekuatan tanah meningkat dan struktur tanah hancur perlahan-lahan.
Proses pemadatan dapat dimulai dengan roda traktor/alat berat atau dengan berlalunya hewan. Beberapa tanah secara alami padat, tersementasi atau memiliki lapisan tanah yang tipis di atas batuan induk. Tanah bervariasi mulai dari yang cukup kuat untuk menahan beban namun ada juga yang akan mengalami kompaksi walaupun dikenai beban yang ringan.
Pada lahan pertanian yang dibajak tahunan, baik lapisan atas tanah dan lapisan bawahnya bisa mengalami kompaksi tanah. Tanah yang dipadatkana akan membentuk pan atau padas yang disebabkan ban traktor selama membajak (di atas). Lapisan padas sulit ditembus akar, air dan oksigen sehingga merupakan hambatan untuk fungsi subsoil tanah tersebut.
Tidak seperti tanah lapisan atas, tanah dibawahnya tidak mengembang kembali setiap tahun, pemadatan menjadi kumulatif dan dari waktu ke waktu sehingga lapisan padat terbentuk. Penggunaan traktor berat selama membajak dan pemanenan merupakan penyebab utama pemadatan tanah.
Tanah memiliki ruang besar yang disebut pori makro yang dibuat oleh akar tanaman, aktivitas biota dan pengempisan tanah yang disebabkan oleh pengeringan tanah basah. Pori makro ini biasanya terus menerus dan membentuk “jalan raya” untuk udara dan air untuk perjalanan jauh ke dalam tanah. Jadi, pori makro tanah menentukan sifat fisik tanah dan kualitas biologi tanah. Pori makro adalah yang paling rentan mengalami pemadatan tanah.
Hilangnya pori makro dan kesinambungan pori-pori sangat mengurangi kemampuan tanah untuk mengalirkan air dan udara. Kapasitas infiltrasi berkurang sehingga meningkatkan run-off, yang akhirnya menyebabkan erosi, banjir, transportasi nutrisi, dan bahan kimia pertanian ke badan air. Aerasi tanah yang buruk mengurangi pertumbuhan tanaman dan menyebabkan hilangnya nitrogen tanah dan meningkatkan produksi gas rumah kaca melalui denitrifikasi di daerah anaerob. Deformasi agregat tanah dan berat jenis tanah yang lebih tinggi akan meningkatkan kekuatan tanah.
Hal ini membatasi pertumbuhan akar yang dapat mengakibatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit. Pemadatan tanah adalah suatu bentuk tersembunyi dari degradasi tanah yang dapat mempengaruhi semua daerah pertanian dan hasil panen menurun secara bertahap dan secara bertahap meningkatkan masalah tentang genangan air. Dampak dari pemadatan tanah akan sangat menonjol dalam tahun dengan periode kering atau basah yang ekstrim. Suatu sumber menyebutkan bahwa kompaksi tanah menyebabkan penurunan hasil tanaman yang mencapai 35%.
Sumber Keluarga Mahasiswa Ilmu Tanah UGM
Kompaksi Tanah adalah bentuk degradasi fisik tanah sebagai kaibat dari pemadatan tanah sehingga aktivitas biologi, porositas dan permeabilitas tanah menurun, kekuatan tanah meningkat dan struktur tanah hancur perlahan-lahan.
Proses pemadatan dapat dimulai dengan roda traktor/alat berat atau dengan berlalunya hewan. Beberapa tanah secara alami padat, tersementasi atau memiliki lapisan tanah yang tipis di atas batuan induk. Tanah bervariasi mulai dari yang cukup kuat untuk menahan beban namun ada juga yang akan mengalami kompaksi walaupun dikenai beban yang ringan.
Pada lahan pertanian yang dibajak tahunan, baik lapisan atas tanah dan lapisan bawahnya bisa mengalami kompaksi tanah. Tanah yang dipadatkana akan membentuk pan atau padas yang disebabkan ban traktor selama membajak (di atas). Lapisan padas sulit ditembus akar, air dan oksigen sehingga merupakan hambatan untuk fungsi subsoil tanah tersebut.
Tidak seperti tanah lapisan atas, tanah dibawahnya tidak mengembang kembali setiap tahun, pemadatan menjadi kumulatif dan dari waktu ke waktu sehingga lapisan padat terbentuk. Penggunaan traktor berat selama membajak dan pemanenan merupakan penyebab utama pemadatan tanah.
Tanah memiliki ruang besar yang disebut pori makro yang dibuat oleh akar tanaman, aktivitas biota dan pengempisan tanah yang disebabkan oleh pengeringan tanah basah. Pori makro ini biasanya terus menerus dan membentuk “jalan raya” untuk udara dan air untuk perjalanan jauh ke dalam tanah. Jadi, pori makro tanah menentukan sifat fisik tanah dan kualitas biologi tanah. Pori makro adalah yang paling rentan mengalami pemadatan tanah.
Hilangnya pori makro dan kesinambungan pori-pori sangat mengurangi kemampuan tanah untuk mengalirkan air dan udara. Kapasitas infiltrasi berkurang sehingga meningkatkan run-off, yang akhirnya menyebabkan erosi, banjir, transportasi nutrisi, dan bahan kimia pertanian ke badan air. Aerasi tanah yang buruk mengurangi pertumbuhan tanaman dan menyebabkan hilangnya nitrogen tanah dan meningkatkan produksi gas rumah kaca melalui denitrifikasi di daerah anaerob. Deformasi agregat tanah dan berat jenis tanah yang lebih tinggi akan meningkatkan kekuatan tanah.
Hal ini membatasi pertumbuhan akar yang dapat mengakibatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit. Pemadatan tanah adalah suatu bentuk tersembunyi dari degradasi tanah yang dapat mempengaruhi semua daerah pertanian dan hasil panen menurun secara bertahap dan secara bertahap meningkatkan masalah tentang genangan air. Dampak dari pemadatan tanah akan sangat menonjol dalam tahun dengan periode kering atau basah yang ekstrim. Suatu sumber menyebutkan bahwa kompaksi tanah menyebabkan penurunan hasil tanaman yang mencapai 35%.
Sumber Keluarga Mahasiswa Ilmu Tanah UGM
Langganan:
Postingan (Atom)