Sabtu, 13 Juli 2013

Budidaya Cabai Rawit Merah dalam Pot

Pusing harga cabai rawit merah selangit ? Itu adalah risiko jika kita terlalu menggantungkan diri pada pasar. Padahal, sebetulnya jika mau sedikit berusaha kita bisa membebaskan diri dari ketergantungan itu dan bahkan mendapatkan peluang keuntungan.

Tidak percaya ? coba dulu anda sudah mulai membudidayakan cabai rawit merah, kini ketika harganya naik berlipat ganda anda bisa menikmati keuntungannya. Kalau pun anda hanya membudidayakan cabai rawit merah itu alakadarnya, setidaknya anda tidak perlu pusing ketika harga cabai rawit merah di pasaran naik gila-gilaan.

Kesadaran memang selalu datang terlambat, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, bagi anda yang ingin mulai membudidayakan cabai rawit merah, berikut referensi yang bisa anda pelajari dan aplikasikan.

Langkah awal membudidayakan cabai rawit merah tentu saja mencari bibit yang baik. Caranya ? pilih buah cabai rawit merah yang besar,sehat, dan matang sempurna. Hilangkan bagian pangkal dan ujungnya. Sayat bagian buah dan ambil bijinya, lalu keringkan biji itu di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung selama lebih kurang tiga hari.

Biji yang sudah dikeringkan tadi selanjutnya disemai. Sebelum disemai di media tanam yang sudah disiapkan, terlebih dulu rendam biji tadi dengan air hangat kurang lebih 30 menit. Kemudian angkat dan rendam sehari semalam dalam laruntan perangsang akar. 

Benih cabe rawit merah yang mengapung setelah sehari semalam direndam harus dibuang, karena benih tersebut pertumbuhannya tidak akan maksimal. Untuk benih yang tenggelam bungkus  dengan kain basah dan biarkan sehari semalam lagi. Keesokan harinya benih baru disemaikain.
 
Tempat persemaian cabai rawit merah berupa tanah gembur yang dicampur pupuk kandang yang sudah matang dengan  perbandingan sama banyak. Masukan media persemaian ke dalam plastik es yang diameternya 3-5 cm dan untuk tingginya cukup 6 cm saja. Basahi media dengan larutan  perangsang akar hingga lembab. 
 
Selanjutnya, semaikan benih cabe rawit  merah tersebut satu per satu. Atasnya tutup dengan media, tipis saja, supaya benih cabai rawit merah tidak terlihat. Selama benih tersebut belum  tumbuh kondisi media harus selalu lembab. untuk mengurangi presentse pencurian benih yang dilakukan semut. Benih siap untuk dijadikan bibit dan dipindah tanamkan apabila  sudah memiliki empat  daun yang sempurna.
 
Sembari menunggu proses persemaian selesai, anda bisa memanfaatkan waktu untuk mebuat media tanam cabai rawit merah itu. Media yang baik untuk digunakan terdiri dari  tanah gembur atau , kompos, dan sekam padi dengan perbandingan yang sama banyak.Aduk ketiga bahan tadi sampai tercampur rata, kemudian masukan ke dalam pot atau  polybag yang memiliki diameter minimal 30 cm.
 
Komponen-komponen di atas memiliki fungsi yang berbeda, namun akan saling mendukung. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara dan  melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar dengan prinsip pertukaran kation. Sekam gunanya untuk menampung/mengikat air dalam tanah, sedangkan kompos untuk  menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi hara yang diperlukan oleh tanaman cabe merah/rawit.
 
Sebaiknya bahan-bahan pupuk kompos yang digunakan adalah bahan yang terbuat dari sampah dapur dan sampah rumah tangga. Hal ini dimaksudkan untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan,  minimalnya yang ada di sekitar kita, dari permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh sampah. Disamping itu, untuk menghemat biaya dalam pengadaan kompos.
 
Setelah media tanam siap, masukkan dalam pot atau polybag dengan ukuran secukupnya. Buat
lubang persis di tengah-tengah media tanam kira-kira lebih besar sedikit dari ukuran bibit cabe itu sendiri.
Sobek bibit cabe dengan cara merobeknya. Saat merobek plastik harus berhati-hati jangan sampai merusak media dan mengakibatkan banyak akar terputus.

Masukanlah bibit cabai rawit merah ke dalam lubang yang telah dibuat tadi, tutup dengan tanah dan ratakan, tapi jangan ditekan. Siramlah dengan air sampai cukup basah.Apabila cuaca panas, sebaiknya tanaman cabai rawit merah diberi pelindung, bisa dengan atap jerami atau daun pisang. Ini supaya bibit yang baru ditanam itu tetap segar.
 
Perawatan tanaman cabai rawit merah tidak terlalu merepotkan. Anda hanya perlu menyiraminya secara rutin pagi dan sore. Agar tanaman padi tumbuh sehat dan menghasilkan buah yang banyak, jangan lupa melakukan pemupukan dengan pupuk organik secara berkala. Serta rajin membersihkan tumbuhan liar disekitarnya dan menggemburkan media tanam.

Minggu, 07 Juli 2013

Cara Membuat Pupuk Organik Sendiri


Gerakan kembali ke alam semakin marak disuarakan belakangan ini, sebagai bentuk 'perlawanan' terhadap penggunaan bahan kimia yang semakin meluas. Tidak terkecuali dalam hal pangan, yang paling mencolok adalah gerakan untuk kembali ke produk pangan organik.

Selain beras, sayuran adalah salah satu yang menjadi fokus gerakan pertanian organik itu. Kekhawatiran akan dampak merugikan dari penggunaan pestisida, herbisida, fungisida, bakterisida dan pupuk kimia merupakan salah satu pemicunya.

Tapi persoalannya, sebagian besar lahan pertanian yang ada saat ini sudah memiliki ketergantungan pada yang namanya bahan kimia, terutama untuk mempertahankan tingkat kesuburannya. Sebagai reaksi sekaligus solusi akan kondisi itu, maka lahirlah gerakan penggunaan pupuk organik.

Akan tetapi, lagi-lagi muncul persoalan baru. Ketersediaan pupuk organik di pasaran masih belum memadai. Bagaimana pun hukum supplay and demand berlaku di sini. Solusinya, ya harus membuat pupuk organik sendiri.

Membuat pupuk organik sendiri sebetulnya tidak terlalu sulit, apalagi bahan-bahannya bisa diperoleh dari lingkungan sekitar. Berikut saya sarikan petunjuk singkatnya sebagaimana dimuat dalam tulisan di http://indotanam.blogspot.com.

Membuat Bakteri
Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk membuat pupuk organik adalah menyiapkan bakteri. Caranya, kumpulkan buah-buahan yang sudah masak 5 kg, tetes tebu atau gula pasir  ¼ kg. Buah-buahan itu ditumbuk, diparut, atau digiling sampai menjadi bubur.

Kemudian peras dan ambil sarinya lalu tambahkan tetes tebu atau larutan gula. Campur sampai rata dan kemudian simpan dalam wadah yang ditempatkan di lokasi tertutup (tidak kena sinar matahari) selama kurang lebih 2 minggu. Bila berhasil, larutan tadi akan mengeluarkan bau yang harum namun agak masam.

Agar bakteri yang telah dihasilkan itu bisa digunakan dalam kurun waktu yang lama, maka harus dibiakkan. Caranya ambil cairan berisi bakteri sekitar 1 liter. Daun dari tumbuhan tidak bergetah 1-2 kilogram, terasi 1/2 kilogram dan larutan dengan air secukupnya, gula pasir atau tetes tebu 1 kilogram (larutkan), kotoran ternak 30 kilogram, dan air secukupnya.

Masukkan kotoran hewan dan dedaunan tadi ke dalam drum khusus, tambahkan larutan gula, terasi, dan cairan berisi bakteri. Tambahkan air hingga permukaannya tergenang. Tutup drum dan biarkan selama 8-10 hari.

Kalau sudah, ambil media pembiakan lalu peras dan saring airnya. Simpan di dalam botol adan taruh ditempat yang tidak terkena matahari. Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan 1-2  liter dan tambahkan air, terasi, larutan gula dengan perbandingan yang sama sambil diaduk-aduk dan tutup kembali wadah tersebut. Setelah 8-10 hari bakteri sudah berkembang biak dan siap digunakan.

Bakteri yang sudah dibiakkan itu bisa digunakan untuk membuat kompos, atau langsung digunakan sebagai pupuk cair.

Rabu, 03 Juli 2013

Hama dan Penyakit Tanaman Mangga

September - Desember setiap tahun, buah mangga banyak kita jumpai di gerai buah hampir di semua pusat perbelanjaan yang mewah maupun di pasar tradisional. Sentra-sentra produsen mangga seperti Probolinggo dan Indramayu, pada bulan-bulan tersebut terjadi panen raya.

Tetapi perlu diingat bahwa buah mangga varietas Arumanis yang mempunyai aroma khas dan rasanya manis itu, bisa melengkapi sebagai buah hidangan maupun jus di meja makan kita, tidak terlepas dari perjuangan para petani dalam mengendalikan hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman buah mangga. Bagaimana pengendaliannya?

Sebagai negara yang beriklim tropis dan keanekaragaman agroklimat, Indonesia mampu menghasilkan hampir semua jenis buah tropika dan sub tropika termasuk mangga. Diluar sentra-sentra produsen mangga seperti Probolinggo dan Indramayu, tanaman mangga dapat dijumpai di hampir setiap pekarangan rumah tangga.

Kabupaten Probolinggo misalnya, mangga dijadikan sebagai komoditas unggulan, usahatani mangga di wilayah tersebut dapat menghidupi 348 kelompok tani dan keluarganya. Varietas mangga yang dikembangkan adalah Arumanis, Manalagi, dan lain-lain. Mangga Probolinggo terutama varietas Arumanis sangat populer bahkan sudah dipasarkan sampai ke luar negeri seperti ke Singapura.

Hama yang sering mengganggu tanaman buah mangga antara lain penggerek pucuk yang disebabkan oleh larva Sternochetus geniocnemis. Hama ini menyebabkan ranting tanaman mati kering karena jaringan pembuluh kayu rusak akibat gerekan larvanya.

Sedangkan pengendaliannya dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida kontak pada bagian ranting. Masih banyak hama dan penyakit lain yang dapat menimbulkan kerugian bagi petani mangga. Informasi ini dapat menambah pengetahuan anda dan mengetahui bagaimana cara pengendaliannya.

Sumber : Puslitbang Hortikultura