Rabu, 27 Juni 2012

Pemupukan Awal Semangka

Pemupukan awal dilakukan sebelum bibit semangka ditanam di bedengan. Hal ini dilakukan karena pada awal pertumbuhannya, tanaman semangka membutuhkan unsur hara lengkap. 

Pupuk awal yang diberikan berupa pupuk kandang dari kotoran ternak dan pupuk buatan atau pupuk kimia berupa NPK, atau campuran antara Urea, ZA, SP36, dan KCl. Pemupukan menggunakan pupuk kandang sebaiknya dilakukan dua minggu sebelum penanaman. 

Pupuk yang digunakan bisa berupa kotoran sapi, kerbau, kambing, ataupun kotoran ayam. Perlu diperhatikan bahwa kotoran ternak yang digunakan adalah yang sudah matang atau sudah jadi pupuk. Pupuk kandang yang sudah jadi tidak berbau dan suhunya sekitar 30oC. Sebaliknya, pupuk kandang yang belum jadi masih memiliki bau yang menyengat dan bersuhu tinggi. 

Pemakaian pupuk kandang mentah dapat merusak akar tanaman, bahkan dapat membuat bibit tanaman mati. Budidaya semangka intensif menggunakan ajir memerlukan pupuk kandang sebanyak 1,5 kg per tanaman. Teknik pemberian pupuk yang ideal untuk penanaman dengan sistem mulsa adalah dengan menebarkan pupuk di lahan bedengan secara merata, kemudian tanah bedengan diaduk menggunakan cangkul sampai pupuk tercampur merata. 

Takaran pupuk mengikuti pola dan jarak tanam yang digunakan. Bila pola penanaman berjajar dua baris dalam satu bedeng dengan jarak dalam baris 90 cm, tiap jarak 90 cm ditebarkan 3 kg pupuk kandang. Pupuk kimia yang digunakan untuk pemupukan awal tanaman semangka adalah Urea, ZA, SP36, KCl, dan Borat. Selain itu, bisa juga ditambahkan pestisida seperti Furadan atau Indofuran. Budidaya semangka secara intensif membutuhkan pupuk Urea 14 gram, ZA 36 gram, SP36 26 gram, KCl 22 gram, Borat 1 gram, dan Furadan atau Indofuran sebanyak 5 gram per tanaman. 

Pemberian pupuk kimia pada budidaya tanaman semangka dengan menggunakan mulsa dilakukan tepat sebelum pemasangan mulsa. Waktunya satu minggu setelah pemberian pupuk kandang atau satu minggu sebelum penanaman. 

Pemberian pupuk kimia dilakukan dengan cara ditaburkan di atas permukaan bedengan dengan dosis 200 gram campuran pupuk per 90 cm panjang bedengan. Setelah pupuk ditaburkan, bedengan dicangkul hingga pupuk tercampur rata dengan tanah. Kemudian bedengan disiram dan dipasangi mulsa plastik.

Minggu, 24 Juni 2012

Jenis-Jenis Semangka 

Di Indonesia dikenal dua jenis semangka, yaitu semangka lokal dan semangka introduksi atau semangka hibrida. Berdasarkan bijinya, ada semangka berbiji dan semangka non biji. 

Semangka Lokal; 
a. Semangka Sengkaling 
Berasal dari daerah Sengkaling, Malang, Jawa Timur. Berbentuk oval dan memiliki garis tipis memanjang berwarna hijau tua. Daging buah semangka ini berwarna merah cerah, rasanya manis, dan berbiji banyak. Sengkaling merupakan semangka open polineted (semangka yang tidak berubah kualitasnya bila bijinya ditanam kembali). 

b. Semangka Bojonegoro 
Berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur. Kulit buah berwarna hijau tua dan bergaris, berdaging merah jingga, rasanya kurang manis. Biji semangka ini banyak, berkulit tipis, dan berdaging tebal, sehingga banyak digunakan untuk pembuatan kuaci. 


Semangka Hibrida; 
a. Sweet Beauty 
Salah satu semangka unggulan Know You Seed. Beratnya 3-4 kg. Kulitnya berwarna hijau muda, dengan belang hijau tua yang memanjang dari pangkal hingga ujung buah. Kulit buah semangka ini tebal, sehingga tahan dalam pengangkutan dan penyimpanan. Daging buah berwarna merah, dengan kandungan gula 12-14%. Semangka Sweet Beauty dipanen pada umur 80-85 hari sejak ditanam di lahan. 

b. Golden Crown 
Diproduksi oleh Know You Seed. Berbentuk bulat memanjang, kulitnya berwarna kuning cerah dan daging buah berwarna merah, dengan kandungan gula sekitar 12%, dan berbiji kecil. 

c. New Dragon 
Semangka New Dragon berasal dari Taiwan. Semangka dengan bentuk bulat memanjang ini memiliki ukuran yang besar. Beratnya bisa mencapai 9 kg. Kulit buah tebal dan tahan kerusakan. Daging buahnya renyah, berair banyak dan rasanya sangat manis. Varietas ini mudah beradaptasi dengan berbagai jenis tanah dan tahan terhadap serangan CMV (cucumber mosaic virus). 

d. Farmer Giant 
Sesuai namanya, ukuran semangka ini besar sampai mencapai 12 kg. Kulit buah tebal dan keras. Daging buah merah menyala, manis, tekstur renyah. Farmer Giant relatif tahan terhadap CMV. 

e. Yellow Baby 
Semangka ini berbentuk oval dan memiliki diameter buah sekitar 15 cm dan berat sekitar 4 kg. Kulit buah berwarna hijau muda menyala dengan corak memanjang berwarna hijau gelap. Sesuai warnanya, daging buah semangka ini berwarna kuning. Rasanya sangat manis dan renyah. 

f. Quality Quality 
Merupakan salah satu semangka unggul tanpa biji. Beratnya mencapai 7,5 kg. Semangka ini berbentuk bulat, warna kulit hijau agak kebiruan dengan corak berwarna hijau tua. Daging buahnya berwarna merah, rasanya sangat manis dan renyah. Kulit buah semangka Quality tebal sehingga memungkinkan untuk tahan pengiriman jarak jauh dan penyimpanan.

Kamis, 21 Juni 2012

Cara Membuat Pupuk Cair Organik

Pupuk Cair Organik
Pupuk Cair
Pupuk Cair : setelah beberapa saat lalu saya membahas tentang Cara Pembiakan Bakteri EM4 untuk pupuk organik, kali ini saya akan share tentang Cara Membuat Pupuk Organik Cair dengan menggunakan proses anaerob atau secara fermentasi tanpa bantuan sinar matahari, penulisan artikel tentang Pupuk Cair Organik ini sendiri sebenarnya terinsfirasi dari beberapa buku yang sempat saya baca tentang Cara Membuat Pupuk Organik Cair.


Cara membuat pupuk cair dengan proses secara anaerob atau secara fermentasi tanpa bantuan sinar matahari ini, kita bisa memakai beberapa bahan yang tersedia di lingkungan kita masing-masing seperti buah tomat, pepaya, mangga dan lain sebagainya, adapun tahap pembuatan Pupuk Cair Organik adalah sebagai berikut :

  • Bahan yang pertama kita sediakan sampah organik basah hijauan, seperti buah tomat, pepaya busuk, serta buah-buahan lainnya tentunya buah-buahan tersebut adalah hasil panen yg tidak di beli oleh distributor atau afkir. untuk tahap awal banyaknya buah tersebut sekitar 1/2 karung beras saja dulu, terus sampah di rajang.
  • Siapkan Cairan molase atau gula putih bisa juga kita menggunakan gula merah jikalau gula putih tidak tersedia sebanyak 1/2 kg.
  • Tahap ketiga kita manfaatkan air cucian beras tajin yang sering di buang sembarangan oleh ibu-ibu rumahtangga, sebanyak 1 liter (usahakan dari cucian pertama)
  • Selanjutnya kita menyediakan bahan hasil pemanfaatan dari buah kelapa yng sudah benar-benar tua lalu kita ambil airnya sebanyak 1 liter.
  • Tahap penyedian bahan terakhir adalah kita sediakan air bersih sekitar 7 liter (diusahakan jangan pakai air Pam yang mengandung kaporit.
Setelah semua bahan kita persiapkan kini kita masuk pada taha selanjutnya yaitu tahap cara pembuatan, sebenarnya ada beberapa cara untuk tahap pembuatan ini tetapi kita ambil yang paling mudah saja.
  • Bahan sampah hijauan atau buah buahan yang tadi kita persiapkan kita masukan kedalam karung dan tekan sampai padat lalu kita ikat. (usahakan benar-benar padat)
  • Tahap selanjutnya yaitu kita buat larutan media dengan mencampurkan bahan yang tadi sudah kita persiapkan lalu masukkan kedalam ember besar atau bahan lainnya yang berukuran sekitar 20 liter. (bila kita menggunakan gula merah harus kita cairkan terlebihdahulu.
  • Setelah semuanya siap lalu kita masukkan hijauan/sampah tadi yang sudah kita kemas dalam karung ke dalam ember tersebut, (biar tidak mengambang kasih pemberat). Usahakan tutup wadah tadi benar-benar rapat supaya udara tidak masuk serta penyimpanan wadah tersebut harus ditempat teduh yang tidak tersinari oleh matahari.
Waktu yang dibutuhkan untuk tahap permentasi ini yaitu sekitar 7-10 hari bila setelah waktu tersebut kita melihat ada bercak putih pada permukaan air, berarti fermentasi kita benar-benar berhasil dan pupuk tersebut siap kita angkat. Sampah yang didalam karung tadi kita bisa gunakan sebagai kompos dan airnya adalah sebagai pupuk organik cair.

Untuk cara penggunaan pupuk cair organik tersebut kita bisa menyiramkannya langsung ke media tanam atau menjadi pupuk semprot untuk daun tanaman. penyiraman pada media tanam atau akar kita bisa menggunakan dosis 500: 1 (500 liter air : 1 liter pupuk cair) dan untuk disemprotkan ke daun adalah sekitar 100:1 adapun penggunaan bila pada musim kemarau kita bisa menggunakan 1 minggu 1 kali penyemprotan atau penyiraman, dan untuk musim penghujan harus 3 kali dalam seminggu. sumber artikel; http://mangogastea.blogspot.com

Selasa, 19 Juni 2012

Memberantas Penyakit Kerdil pada Tanaman Padi

Tanaman padi varietas Cisadane dinyatakan rentan terhadap penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Berkenaan dengan hal tersebut perlu diketahui seperti apa penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput serta bagaimana penyebarannya serta cara-cara pengendaliannya.
1. Penyakit Kerdil Hampa
Penyakit ini disebabkan oleh virus kerdil hampa padi yang ditularkan secara persisten oleh wereng cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) dan spesies lain dalam genus Nilaparvata (Hibino 1989; Milne and Ling 1982). Virus ini dapat memperbanyak diri di dalam tubuh vektor, tetapi tidak ditularkan melalui telur, air, tanah, biji maupun secara mekanik (Chetanachi et al.,1979; Ling et al.,1978).

Apa Gejalanya, Bagaimana Penyebarannya, dan Epidemiologi 
Tanaman padi yang diserang pertumbuhannya kerdil, daun bendera agak pendek, dan warna daun menjadi hijau tua. Daun yang baru tumbuh sering memutar dan tepinya robek, anakan bercabang dan terdapat bengkakan sepanjang tulang daun, keluiarnya malai terhambat dan menyebabkan bulir menjadi hampa (Hibino et al.,1977).Secara alamiah sumber penyakit telah terpelihara di daerah endemis wereng cokelat, hal tersebut disebabkan karena wereng cokelat mempunyai kemampuan terbang yang jauh dan mampu melintas lautan.
2. Penyakit Kerdil Rumput
Sama halnya dengan penyakit kerdil hampa, penyakit ini juga disebabkan oleh virus kerdil rumput padi yang berbentuk benang halus sekali (filamentous thread) melingkar dengan diameter 6-8 mm dan panjang bervariasi antara 950-1.350 mm, menghasilkan protein noncapsid yang berlimpah, mengandung RNA utas tunggal dan utas ganda (Hibino et al.,1985). Partikel virus ini serupa dengan virus penyebab penyakit daun bergaris (rice stripe virus) di Jepang.

Apa Gejalanya, Bagaimana Penyebarannya, dan Epidemiologi ?
Tanaman padi yang diserang akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut: tanaman menjadi kerdil, jumlah anakan sangat banyak, tumbuhnya tegak, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau pucat atau kekuningan dengan bercak-bercak berwarna cokelat, kadang-kadang muncul gejala belang. Tingkat kerusakan ditentukan oleh varietas padi dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Pada umumnya semakin tua umur tanaman pada saat terinfeksi, semakin rendah persentase pertanaman yang rusak bahkan gejala penyakit tidak tampak sampai tanaman dipanen. Gejalanya baru akan tampak pada ratun sehabis panen (Ling, 1972). Penularan virus kerdil rumput terjadi secara persisten oleh wereng cokelat Nilaparvata lugens dan dua spesies Nilaparvata lainnya. Virus ini dapat memperbanyak diri di dalam tubuh vektor, tetapi tidak ditularkan melalu telur. Virus ini juga mempengaruhi umur dan reproduksi vektornya. Bila terjadi ledakan serangan wereng cokelat yang merupakan vektor dari ke dua virus tersebut maka akan timbul endemi penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Penyebaran penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput di lapangan tergantung pada beberapa faktor, antara lain serangga vektor, sumber virus, varietas padi dan faktor lingkungan.
Bagaimanakah Cara Pengendalian Ke Dua Penyakit Ini ?
Pengendalian penyakit kerdil rumput maupun kerdil hampa dilakukan dengan pengintegrasian beberapa cara pengendalian dalam satu sistem terutama ditujukan untuk mengendalikan vektor, yaitu dengan cara penanaman varietas tahan, penghilangan suber virus, cara bercocok tanam, pengendalian biologi, penyemprotan pestisida berdasarkan hasil pengamatan.
Penanaman Varietas Tahan
Agar tidak terjadi serangan maka di wilayah endemis wereng cokelat, pada musim hujan harus menggunakan varietas yang tahan sesuai dengan biotipe yang berkembang di satu lokasi. Varietas yang tahan wereng coklat adalah Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW)-1 dan 2. VUTW-1 merupakan varietas yang tahan terhadap wereng cokelat biotipe 1, yaitu PB26, PB28, PB30, PB34, Asahan, Citarum, dan Brantas sedangkan VUTW-2 yang tahan terhadap wereng cokelat biotipe 2 yaitu PB32, PB36, PB38, PB42, Cisadane, Cimandiri dan Ayung. Selain itu PB56 dan Kelara adalah varietas yang tahan wereng cokelat biotipe Sumatera Utara.
Menghilangkan Sumber Infeksi
Untuk mengurangi penyebaran penyakit kerdil rumput maupun kerdil hampa dengan cara mencabut dan membenamkan tanaman yang terinfeksi, sisa-sisa tanaman, dan ratun. Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara sanitasi secara selektif terhadap tanaman yang diduga dapat berfungsi sebagai inang virus atau wereng cokelat.
Cara Bercocok Tanam
Pengendalian penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput yang perlu dilakukan dalam bercocok tanam padi adalah dengan melakukan pergiliran tanaman (padi dengan palawija), pengaturan air irigasi, dan pemupukan berimbang. Pergiliran tanaman dengan palawija dapat memutus daur hidup wereng cokelat dan wereng hijau, karena ke dua hama tersebut hanya berkembang dengan baik pada tanaman padi. Tanaman palawija merupakan tempat berlindung musuh alami hama wereng yaitu laba-laba. Pengaturan air irigasi cukup penting karena kondisi pengairan mempengaruhi kelembaban di bawah kanopi. Nimfa wereng cokelat tidak dapat berkembang dengan baik pada kelembaban di bawah kanopi kurang dari 60% (Isichaikul et al.,1994). Pengeringan sawah dapat meningkatkan kematian nimfa wereng cokelat. Pemberian pupuk urea yang berlebihan menyebabkan tanaman sangat baik untuk perkembangan wereng cokelat.
Pengendalian Dengan Cara Biologi
Pengendalian secara biologi dilakukan dengan memanfaatkan musuh-musuh alami wereng cokelat. Jenis predator yang dihandalkan untuk mengendalikan wereng adalah dari jenis laba-laba (Lycosa) dan kepik (Cyrtorhinus Microvelia). Laba-laba sulit dibiakkan secara massal karena sifatnya yang kanibal. Sedangkan predator dari jenis kepik dapat diperbanyak dengan cara yang lebih mudah dibandingkan dengan jenis laba-laba, sehingga dapat dilepas dengan teknik inundasi.
Pestisida
Penggunaan pestisida harus dilakukan secara hati-hati dan bijaksana dengan berdasarkan hasil monitoring populasi. Pengambilan keputusan pengendalian hama wereng cokelat dengan pestisida dapat didasarkan pada ambang kendali yang mempertimbangkan populasi musuh alami, keputusan pengendalian ditetapkan dengan formula Baehaki (Baehaki, 1999).

Insektisida yang manjur mengendalikan hama wereng cokelat dan wereng punggung putih diantaranya adalah fipronil dan imidakloprid. Jenis insektisida buprofezin dapat digunakan untuk pengendalian wereng cokelat populasi generasi 1 atau 2, sedangkan fipronil dan imidakloprid untuk wereng cokelat generasi 1, 2, 3 dan 4. Bahan kimia nabati yang dapat membunuh wereng cokelat adalah dari ekstrak tanaman nimba. Penggunaan pestisida nabati tidak dapat disamakan dengan insektisida an-organik. Penggunaan pestisida nabati dianjurkan mulai dari saat populasi wereng cokelat masih di bawah ambang kendala. (sumber artikel; http://penyuluhthl.wordpress.com)