Senin, 31 Desember 2012

Cara Menanam Kentang


Kentang merupakan sayuran yang memiliki tingkat permintaan yang tinggi. Sehingga prospek yang cukup bagus untuk budidaya kentang di Indonesia, karena tekstur tanahnya juga cocok untuk ditanam kentang. Untuk emnghasilkan yang cukup banyak hasilnya, berikut adalah cara penanaman kentang yang baik.

Syarat pertumbuhan
- iklim
curah hujan rata2 1500 mm/tahun Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.
- media tanam
tanah gembur, banyk mengandung bahan organik dengan pH 5,8-7,0

Pembibitan
- Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
- Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

Pengolahan media tanam
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).

Pemupukan
Pemupukan anorganik bisa anda dapatkan seperti urea(200 kg/ha), SP 36(200 kg/ha) dan KCT(75 kg/ha)

Penyulaman tanaman
Penyulaman dilakukan jika ada tanaman yang mati dan tumbuh tidak normal, cara ini dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.

Penyiangan
Penyulaman dilakukan 2 kali dalam masa penanaman.
Pemangkasan bunga
Cara ini harus dilakukan karena tanaman kentang mmang mempunyai bunga, jika bunga tetap dibiarkan akan mengganngu proses pertumbuhan umbi.

Panen
umur panen tanaman kentang berkisar antara 150-190 hari. Tanaman kentang yang siap mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
- biasanya daunnya berwarna kekuningan
- batang tanaman juga kekuningan
- kulit umbi akan lekat dengan daging umbi
- kulit tidak cepat mengelupas
 Silahkan mencoba, semoga berhasil dan semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membacanya.

Minggu, 30 Desember 2012

Tanam Padi Metode S.R.I. (System of Rice Intensification)

S.R.I. adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara. Metode S.R.I. ini terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50 % bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100 %.
Teknik S.R.I. ini telah berkembang di 36 negara antara lain Indonesia, Kamboja, Laos, Thailand, Vietnam, Bangladesh, Cina, Nepal, Srilanka, Gambia, Madagaskar dan lainnya.

Dalam budidaya padi metode S.R.I. ini ada beberapa prinsip yang menjadi ketentuan, yaitu :
a.    Tanam bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah sebar (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai.
b.    Tanam bibit satu lubang satu batang dengan jarak tanam biasa 25 Cm x 25 Cm, 30 Cm x 30 Cm atau legowo 2.
c.    Pindah tanam harus hati-hati karena batang masih lemah dan akar tidak putus dan ditanam tidak dalam.
d.    Pemberian air maksimal 2 Cm dengan cara intermitten (berselang).
e.    Penyiangan sejak awal pada umur 10 hari dan diulang sampai 3 kali dengan interval 10 harian.
f.    Upayakan menggunakan pupuk organik.
 
Kelebihan S.R.I. dibandingkan dengan tanam padi secara biasa petani (konvensional) adalah :
a.    Tanaman hemat air.
b.    Hemat biaya benih.
c.    Hemat waktu karena panen lebih awal.
d.    Produksi bisa meningkat.

Budidaya Padi Metode S.R.I.
a.    Pengolahan Tanah
•    Tanah dibajak sedalam 25 – 30 Cm.
•    Benamkan sisa-sisa tanaman dan rumput-rumputan
•    Gemburkan dengan garu sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna, lalu diratakan sehingga saat diberikan air ketinggiannya di petakan sawah merata.
•    Sangat dianjurkan pada waktu pembajakan diberikan pupuk organik (pupuk kandang,pupuk kompos,pupuk hijau).

b.    Pemilahan Benih Bernas dengan Larutan Garam
Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik (bernas) maka perlu dilakukan pemilihan, walaupun benih tersebut dihasilkan sendiri, atau benih berlabel yaitu dengan menggunakan larutan garam dengan langkah-langkah sebagai berikut:
•    Masukan air kedalam ember, kemudian masukan garam lalu diaduk sampai larut, jumlah garam dianggap cukup bila telur itik bisa mengapung.
•    Masukan benih padi kedalam ember, kemudian pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Selanjutnya benih yang tenggelam/benih yang bermutu dicuci dengan air biasa sampai bersih.  

c.    Perendaman dan Pemeraman Benih
Setelah uji benih selesai proses berikutnya adalah:
•    Benih yang bermutu (tenggelam) direndam dalam air bersih selama 24-48 jam.
•    Setelah direndam, dianginkan (ditiriskan) selama 24-48 jam sampai berkecambah

d.    Persemaian
Persemaian  untuk budidaya S.R.I dapat dilakukan dengan mempergunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu/besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan, dan penanaman.
Proses persemaian adalah sebagai berikut:
•    Benih yang dipergunakan tergantung pada kebiasaan/ kesukaan petani (bermutu baik/bernas).
•    Penyiapan tempat persemaian dilapisi dengan daun pisang yang sudah dilemaskan, kemudian diberikan tanah yang subur bercampur kompos (perbandingan 1:1), tinggi tanah pembibitan sekitar 4cm.
•    Benih yang ditaburkan ke dalam tempat persemaian, kemudian ditutup tanah tipis.
e.    Penanaman
•    Pola penanaman bibit metoda S.R.I adalah bujur sangkar 30 x 30 cm, 35 x 35 cm atau lebih jarang lagi misalkan sampai 50 x 50 cm pada tanah subur.
•    Garis-garis bujur sangkar dibuat dengan caplak.
•    Bibit ditanam pada umur 5-15 hari (daun dua) setelah semai, dengan jumlah bibit per lubang satu, dan dangkal 1-1,5 cm, serta posisi perakaran seperti huruf L.

f.    Pemupukan
Takaran pupuk  an-organik (kimia) disesuaikan dengan anjuran. Hasil Demplot digunakan pupuk kimia sebagai berikut:
•    Pemupukan I pada umur 7-15 HST dengan dosis Urea 125kg/Ha, SP-36 100kg/ha.
•    Pemupukan II pada umur 20-30 HST dengan dosis Urea 125kg/ha
•    Pemupukan III pada umur 40-45 HST dengan dosis ZA 100kg/ha. jika tanaman belum bagus.
Metode S.R.I sangat menganjurkan pemakaian pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau/daun-daunan), penggunaan pupuk organik selain memperbaiki struktur tanah juga bisa mengikat air/menghemat air.   

g.    Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan mempergunakan alat penyiang jenis landak atau rotary weeder, atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus penggemburan tanah.  Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih, sesuai kondisi sawah. Semakin sering dilakukan penyiangan akan dapat meningkatkan produksi.

h.    Pemberian air secara terputus/berselang
Dengan cara terputus-putus (intermitten) dengan ketinggian air di petakan sawah maksimum 2 cm, paling baik macak-macak (0,5 cm).  Pada periode tertentu petak sawah harus dikeringkan sampai tanahnya pecah-pecah rambut.

i.    Panen
Panen dilakukan setelah tanaman sudah tua dengan ditandai menguningnya semua bulir secara merata atau masaknya gabah. Bulir padi telah benar-benar bernas berisi. Bila dihitung dari pesemaian, maka umur panen lebih singkat dibandingkan dengan cara konvensional.

Oleh : Tatang Gunawan, S.P.
Sumber : BP4K Kabupaten Karawang

Sabtu, 01 Desember 2012

Pedoman Teknis Memilih Bibit Bawang Merah


Bibit merupakan faktor penting untuk berhasilnya budidaya suatu tanaman, begitu pula dengan bawang merah. Agar budidaya bawang merah sukses dan memberikan hasil panen maksimal, maka perlu memilih bibit bawang merah yang baik.

Memilih bibit bawang merah tidak bisa secara sembarangan. Ada beberapa faktor teknis yang harus pula diperhatikan. Lain lokasi bisa berbeda pula bibit bawang merah yang harus digunakan supaya tumbuh dengan baik.

Secara umum, bibit bawang merah yang baik memiliki ciri berwarna mengkilat atau mengkilap, tidak keropos, kulit tidak luka dan telah disimpan antara 2-3 bulan setelah dipanen. 

Untuk dataran rendah, varietas yang dianjurkan adalah Kuning, Bima, Brebes, Bangkok, Kuning Gombong, Klon 33, dan klon 86. Sementara untuk dataran  medium dan tinggi varietas yang dianjurkan adalah Sumenep, Menteng, klon 88, klon 33, dan Bangkok 2.

Nah, semoga informasi singkat ini bisa memberikan manfaat untuk anda yang tertarik untuk budidaya bawang merah. Untuk sementara sampai disini dulu, lain waktu disambung lagi dengan pedoman teknis membuat bedengan.